Pentingnya Sikap Humanis Dalam Kehidupan

Pentingnya Sikap Humanis Dalam Kehidupan
Pentingnya Sikap Humanis Dalam Kehidupan
Pentingnya Sikap Humanis Dalam Kehidupan
Pentingnya Sikap Humanis Dalam Kehidupan - geografis wilayah Indonesia dan letak kepulauannya berada diantara dua benua dan dua samudra (posisi silang) merupakan faktor tumbuhnya kemajemukan masyarakat Indonesia. Dalam arti, beribu-ribu pulau yang berjajar secara terpisah secara otomatis beberapa budaya juga berbeda, sedangkan posisi pulau Indonesia yang amat strategis menarik bangsa lain untuk singgah dan membawa budayanya masing-masing. Dengan demikian terciptalah masyarakat majemuk yang mempunyai karakteris sebagai sub kebudayaan yang berbeda, adanya dominasi kelompok penguasa, integrasi sosial tumbuh atas paksaan, memiliki struktur berbeda, kurang mengembangkan konsensus diantara para anggota, dan tak pelak lagi munculnya banyak konflik. Sebagaimana yang telah dialami oleh bangsa kita, baik konflik yang mengarah pada unsur SARA, politik dan HAM dibeberapa tempat dalam jangka yang relatif lama.


Setiap individu memang mempunyai kepentingan masing-masing, sedangkan terjadinya konflik itu sendiri merupakan buah dari kepentingan yang berbeda satu sama lain. Namun, apakah konflik dalam beberapa aspek kehidupan kita dibiarkan terjadi begitu saja? Bukankah kita cinta damai?.

Apabila kita memang benar-benar menginginkan hal tersebut, mari kita kembali pada hakikat diri kita sebagai manusia. Manusia yang beragama, bersosial, berekonomi dan berpendidik. Selayaknya bagi kita untuk bersikap humanis (menjunjung nilai-nilai kemanusiaan) dan memanusiakan diri kita sendiri, karena alternatif ini akan mewujudkan apa yang kita harapkan dan kita dambakan.

Gambaran dari sikap humanis dalam kehidupan sehari-hari adalah mengembangkan sikap saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Sebagaimana berdirinya Rosululloh disaat bertemu dangan jenazah orang yahudi yang membuat para sahabat heran dan penuh tanda tanya besar. Namun, beliau memberi alasan bahwa beliau berdiri untuk menghormati jenazah tersebut, walaupun yahudi dia juga termasuk mahluk Allah SWT.

Sikap Sayyidina Umar bin Khattab terhadap putra Amr bin Ash (penguasa Mesir) yang bertindak kurang benar terhadap salah seorang kaum Qibti yang dipukul oleh putra Amr bin Ash. Setelah kabar ini sampai kepada kholifah, utusan Sayyidina Umar mendatanginya dan memperkenankan bagi anak Qibti itu untuk membalas perlakuan itu, kemudian Sayyidina Umar memberi teguran "Sampai kapan engkau akan memperbudak manusia padahal ia lahir dari perut ibunya dalam keadaan merdeka?".

Sedangkan orang humanis yang banyak diakui oleh masyarakat di negeri ini diantaranya adalah almarhum KH. Abdurrahman Wahid, beliau pernah menyatakan bahwa "Perbedaan merupakan kekayaan", yang sesuai dengan kata hikmah yang berbunyi " Perbedaan dalam ummat merupakan rahmat bagi umat itu".

Begitu pula Bapak Dr. Nurcholis Madjid (Cak Nun), tak heran jika kedua-duanya diterima di beberapa masyarakat. Pembudayaan Cross Cutting Affiliation (Saling silang diantara masyarakat dalam kelompok sosial, contoh : sama-sama pemeluk islam tetapi berasal dari suku yang berbeda), serta Cross Cutting Loyalities (adanya rasa tanggung jawab yang mengikat terhadap tempat/wadah keanggotaanya).

Beliau pernah mengintruksikan HAM yang telah ditetapkan semenjak 1300 tahun yang lalu, jauh sebelum timbulnya renaisance dibarat, revolusi Amerika dan Prancis mengakui HAM. Diantara aplikasi dari sikap humanis adalah demokrasi yang telah digambarkan pada saat pengangkatan Sayyidina Abu Bakar yang terpilih sebagai kholifah dengan jalan musyawarah serta pidato beliau kala duduk di kursi kepemimpinan dengan cuplikan sebagai berikut "Jika aku benar, bantulah aku, jika sebaliknya peringatkan aku". Sayyidina Ali ra di hadapan sebagian orang-orang yang soleh "apakah yang kau lihat dari diriku tentang hal yang kau senangi maupun yang kau benci?".

Masyarakat yang dibangun oleh Rosul setelah isro' mi'roj adalah masyarakat yang egaliter, penuh toleransi dan demokrasi yang merupakan aplikasi nilai-nilai yang terkandung dalam ritual sholat. Masyarakat yang dimaksud adalah masyarakat Madinah yang dibangun diatas dasar iman yang teguh, ahlak yang mulia yang merupakan kunci keberhasilan Rasul dalam dakwahnya.


Hal-hal yang ditempuh oleh Rasul dalam menyusun masyarakat adalah :

  1. Menciptakan perdamaian dan persatuan antara umat beragama yang dilakukan di Madinah, muslim dan non muslim, yang kemudian terjalin persaudaraan (ukwah islamiyah) antara muhajirin dan anshor menuju rekonsiliasi (rujuk kembali),
  2. Membina kerukunan hidup beragama sebagaimana yang tercantum dalam piagam Madinah. Hal ini menunjukkan adanya perlindungan hukum dan keadilan atas semua lapisan masyarakat, 
  3. Membina masyarakat damai dengan pendekatan secara manusiawi yang telah diwujudkan oleh Rasul dalam fathul Mekkah dengan memberikan maaf kepada orang-orang yang bersalah sehingga akhirnya rasa benci, dendam politik pada masa lalu reda, 
  4. Deklarasi universal juga dilakukan oleh Rasul dalam haji wada' yang diantaranya "......., kamu berasal dari Nabi Adam, sedangkan Nabi Adam berasal dari tanah, sesungguhnya kemuliaanmu disisi Allah diukur dari kadar taqwamu, sehingga tiada keutamaan bagi orang Arab dan Ajam kecuali dengan taqwanya, sesungguhnya jiwamu dan hartamu haram bagimu hingga engkau bertemu dengan Tuhanmu, sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara...".
Dengan demikian, sangat relevan kita mengaktualisasikan sistem yang dilakukan oleh Rasulullah dalam membangun masyarakat baru di Madinah dengan sosok pribadi Rasul sebagai yang humanis dan demokrat.

Disadur dari majalah El-Wardah 
Baca juga:

Artikel Menarik Lainnya :

Comment Policy: Silahkan tinggalkan komentar Sobat sesuai dengan topik artikel di halaman ini. Komentar yang berisi Link tidak akan ditampilkan.
Buka Komentar