Bijak Memilih Ulama Di Jaman Setan Berkalung Surban

Bijak Memilih Ulama Di Jaman Setan Berkalung Surban
Bijak Memilih Ulama Di Jaman Setan Berkalung Surban
Setan Berkalung Surban

Kawan, setan itu sekarang sudah tidak lagi mengajak maksiat. Untuk bermaksiat manusia sudah tidak perlu diajak sudah pinter dan lihai. Sekarang setan justru mengajak beribadah, mengajak kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah, sehingga sekarang semua orang begitu mudahnya bicara Al-Qur'an dan Sunnah.

Sampai orang yang menulis arab saja belum benar pun bisa bicara soal ayat-ayat suci dan sabda-sabda Rasulullah saw. Sekarang semua orang begitu bangganya bisa beribadah. Jama'ah subuh saja sekarang disiarkan di televisi.

Bangun subuh begitu bangganya hingga dijadikan update-an status. Sampai-sampai menuduhkan munafik kepada mereka-mereka yang menyembunyikan subuh-subuh mereka. Apalagi bisa sampai merasa telah melaksanakan sunnah minum air kencing onta sambil bertakbir.

Kurang ittiba' (mengikuti) Rasul apalagi coba? Maka yang dulunya setan itu di pasar-pasar sekarang pindah ke masjid-masjid. Setan sekarang berbaju koko, bergamis, dan bersurban. Di sanalah "pasar baru" bagi setan. Khutbah-khutbah didengungkan dengan takbir bertalu-talu namun terus memberi agitasi kemurkaan dan kebencian kepada sesama makhluk Allah.

Setan sekarang pandai menyitir ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits. Bahkan dia bisa lebih fasih dari santri yang telah belajar belasan tahun di pesantren. Setan sekarang hafal Al-Qur'an mengajak membela agama.

Pada akhirnya mereka yang ikut ajakan setan begitu bangganya dengan ibadah dan amal mereka namun lupa kepada siapa yang diibadahi. Mereka begitu giat berjama'ah di masjid namun lupa kepada siapa yang dia sembah.

Mereka kini menyembah amal perbuatan mereka sendiri, menyembah pahala, dan bahkan menyembah surga.

Mereka kini selalu mengajak mengikuti Muhammad bin Abdullah Nabi penutup para Nabi. Bahkan mereka mengklaim sedang berusaha mengikuti Nabi Muhammad.

Namun Muhammad yang mana yang menghina organ tubuh orang lain?

Muhammad yang mana yang menghina sesama muslim?

Muhammad yang mana yang mengkafirkan sesama muslim setiap Natal dan Tahun baru?

Baca juga : Pentingnya sikap humanis dalam kehidupan

Muhammad yang mana yang menciptakan konflik dengan menentang pemerintahan yang sah?

Muhammad yang mana yang melegalkan berita bohong untuk berdakwah?

Bahkan Muhammad dipersaksikan oleh seluruh alam dan Allah swt, sebagai manusia yang tidak pernah berbohong sekali pun.

Muhammad yang mana yang menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an untuk kepentingan kelompok dan golongannya sendiri saja?

Begitulah kawan, setan telah masuk ke dalam hati kita dengan rupa yang indah, dengan bentuk yang bagus. Sehingga kita merasa apa yang kita perbuat adalah amal shaleh.

Sehingga kita merasa sudah layak masuk surga. Sehingga kita merasa paling dekat dengan kebenaran. Dan akhirnya kita akan merendahkan orang lain.

Akan menghina orang lain. Mengkafirkan orang lain. Dan akan menuduhkan sesat dan murtad kepada orang lain selain kelompok kita.

Ada sebuah hadits Nabi SAW berupa kisah inspiratif yang diceritakan di dalam kitab hadist Shahih Bukhari, kurang lebih ceritanya seperti ini.

Suatu waktu, sahabat Abu Hurairah yang terkenal karena menghafal hadis diberi tugas oleh Rasulullah SAW untuk menjaga sebuah gudang yang berisi gandum hasil zakat masyarakat waktu itu.

Tibalah, pada suatu malam hari, datanglah seorang pria dewasa berbadan tinggi kekar sedang memanggul karung hendak mencuri beberapa karung gandum di gudang tersebut. Abu Hurairah mengetahuinya.

Dalam kisah inspiratif islami tersebut diceritakan, Abu Hurairah kemudian menangkap pencuri itu dan bermaksud membawanya ke hadapan Nabi Muhammad saw, akan tetapi pencuri tadi memelas, mengiba.

Dia memohon dan merayu Abu Hurairah agar melepaskannya.
Karena didasari rasa iba, sahabat Abu Hurairah jadinya melepaskan pencuri gandum itu dan memintanya berjanji untuk tidak datang lagi mencuri gandum, khususnya mengulangi perbuatan mencurinya itu.

Esok harinya, sebelum Abu Hurairah menceritakan kejadian yang menimpanya tadi malam, Abu Hurairah sudah terlebih dahulu ditanya Nabi saw,

“Wahai Abu Hurairah, apa yang sudah kamu lakukan terhadap laki-laki yang berhasil kamu tangkap tadi malam?”

Abu Hurairah kaget, kemudian menceritakan peristiwa pencurian gandum itu kepada Nabi Muhammad saw.

Nabi kemudian berkata, “Perkuat kewaspadaanmu dan awasilah lagi, nanti malam lelaki itu akan datang lagi mencuri gandum.”

Tepat saja, pada malam kedua lelaki dewasa berbadan kekar itu masuk lagi ke dugang dan mencuri beberapa karung gandum. Abu Hurairah sekali lagi menangkapnya dan pencuri itu kembali seperti sebelumnya merayu dengan lihainya, sehingga Abu Hurairah tidak tega dan melepaskannya kembali.

Baca juga : Kiat sehat dengan sholat

Keesokan harinya, Rasulullah menanyakan kepada Abu Hurairah pertanyaan yang sama, sama seperti pertanyaan hari kemarin, Abu Hurairah pun juga sama, menjawab dengan jawaban yang sama seperti hari kemarin.

Nabi kemudian berkata lagi menambahkan, “Ingatlah wahai Abu Hurairah, nanti malam Lelaki pencurri itu akan datang lagi.”

Abu Hurairah mulai waspada dan menaruh kecurigaan, mengapa sampai lelaki pencuri nekat dan terus melakukan perbuatannya. Dan, kini Abu Hurairah berjanji dengan kuat dalam hati,

“Nanti malam, kalau pencuri itu aku tangkap, aku tidak akan melepaskan dia, walaupun dia mengiba lagi.”

Benar, akhirnya pada malam ketiga lelaki pencuri itu mendatangi gudang gandum yang di jaga Abu Hurairah dan melakukan pencurian kembali.

Akhirnya, Abu Hurairah seperti janji yang telah melekat pada dirinya akan segera melaporkan dan membawa pencuri itu ke hadapan Nabi Muhammad saw, Abu Hurairah tidak akan melepaskannya begitu saja seperti malam-malam sebelumnya.

Setelah tertangkap tangan lagi dan sebelum Abu Hurairah membawa pencuri itu berangkat menghadap Nabi, pencuri itu memohon kepada Abu Hurairah agar berkenan berbicara dan Abu Hurairah pun mempersilakannya.

“Hai Abu Hurairah, maukah kamu saya beri sebuah do'a atau amalan?” seperti itu kata lelaki pencuri tadi ke Abu Hurairah.

Abu Hurairah tentu saja kaget, dalam hati ia membatin, “Ini pencuri, tapi koq mau memberi do'a atau amalan. Jangan-jangan dia seorang syaikh yang pandai agama!” Abu Hurairah sangat penasaran.

“Amalan apakah itu yang hendak engkau ajarkan kepadaku?” tanya Abu Hurairah.

Pencuri tadi menjawab, “Hai Abu Hurairah, bacalah ayat Kursi sebelum kamu tidur maka Allah swt akan menjagamu malam itu dari godaan setan dan iblis.”

Mendengar jawaban dari pencuri itu, Abu Hurairah langsung melepaskannya.

Dalam hati, ia berkata, “Pencuri ini benar-benar seorang syaikh yang sedang melakukan penyamaran.”

Esok harinya, lagi-lagi Nabi Muhammad saw menanyakan peristiwa yang terjadi malam itu kepada Abu Hurairah dan Abu Hurairah mengisahkan tentang lelaki pencuri yang memberitahunya sebuah amalan tadi berharga tadi malam.

Nabi saw kemudian menanyakan, “Amalan apakah itu?”

Abu Hurairah menjawab sama persis dengan yang dikatakan oleh pencuri itu tadi malam.

Nabi saw kemudian berkata, “Amalan yang dia berikan itu benar sekali, akan tetapi dia telah berbohong.”

Nabi saw lalu bertanya, “Hai Abu Hurairah, tahukan engkau siapa lelaki yang datang tiga malam berturut-turut itu?”

Abu Hurairah menjawab, “Tidak tahu.”

Nabi kemudian berkata, “Dia adalah setan.”

Dari kisah inspiratif islami yang tertuang dalam hadits ini, ada beberapa pelajaran menarik yang bisa kita petik,

Pertama, setan dapat merubah bentuknya menjadi manusia sesuai yang ia kehendaki atas izin Allah swt, kecuali menyerupai Nabi Muhammad saw, karena mereka tidak akan sanggup menyerupai Nabi.

Kedua, sebagai implementasi atas janjinya menggoda dan menjerumuskan manusia, setan dapat menjelma menjadi sosok manusia mulia dalam pandangan manusia lain dengan segala atribut yang tertempel dan nasihat-nasihatnya.

Di sinilah, banyak orang yang terkecoh dengan penampilan setan yang sama persis dengan sosok yang ditirunya.

Apabila yang digoda seorang yang senang beribadah, setan tidak akan menyuruhnya berbuat maksiat dan kedurjanaan. Tetapi, setan menyerunya melakukan perbuatan yang lahiriahnya adalah sebuah ibadah.

Ketika ibadah dilakukan tidak bermaksud menjalankan perintah Allah dan atau rasul-Nya, apalagi dalam rangka memenuhi keinginan atau hawa nafsu yang dibisiki oleh setan, ibadah itu tentu bukan untuk Allah swt, akan tetapi untuk setan.

dikutip dari status : Zulfahani Hasyim

Artikel Menarik Lainnya :

Jika Sobat merasa bahwa artikel-artikel di blog ini bermanfaat, Sobat dapat membantu perkembangan blog ini berupa donasi via Paypal yang nantinya dapat digunakan untuk memperpanjang domain www.b38.web.id - Terima kasih.
Buka Komentar