Menguji Keimanan Iblis Dengan Manusia

Menguji Keimanan Iblis Dengan Manusia
Menguji Keimanan Iblis Dengan Manusia
Menguji Keimanan Iblis Dengan Manusia

Kalau kita paling baru bisa shalat tahajud dan shalat subuh berjama'ah di masjid, terus merasa paling beriman sealam semesta, merasa paling berhak atas surga, merasa paling benar dan tidak mungkin salah, merasa orang lain yang beda paham beda agama adalah musuh yang harus diperangi, malu lah kita pada iblis.

Iblis itu sebelum jadi makhluk terlaknat, dia telah lebih dahulu menghabiskan 80 tahun masa hidupnya untuk bersujud kepada Allah swt (Kitab Minhajul 'Abidin karya Imam al-Ghazali Bab Motivasi Ibadah) .

Sampai-sampai telapak kakinya tidak bergeser satu inci pun kecuali hanya untuk bersujud. Iblis tidak pernah minum minuman keras, dia tidak berzina, tidak berjudi, tidak pula korupsi.

Iblis meyakini keesaan Allah melebihi kita. Karena kita yakin Allah Esa itu melaui wahyu dan perangkat akal. Sementara Iblis meyakini Allah itu Esa karena telah membuktikannya sendiri dengan mata kepalanya sendiri.

Jadi jangan adu keimanan kita dengan keimanannya Iblis, kita pasti kalah.

Dia percaya kepada malaikat karena dia sendiri pernah hidup bersama-sama para malaikat. Iblis percaya surga bukan karena "katanya", tapi dia sendiri pernah tinggal di dalamnya. Iblis percaya siksa neraka bukan karena diberitahu seperti kita, tapi karena melihat sendiri bagaimana kejamnya neraka.

Jadi tidak usah merasa paling beriman sementara dengan Iblis pun iman kita tidak ada secuilnya. 

Lalu mengapa Iblis sampai diusir dari surga? Dijadikan makhluk terlaknat? Bahkan dijanjikan siksa neraka? Penyebabnya cuma satu dosa saja, yaitu sombong.

Dia merasa lebih mulia dari Adam, lebih baik dari Adam yang tebuat dari tanah liat. Merasa lebih saleh karena Adam baru diciptakan dan belum melakukan ibadah sebanyak Iblis yang telah 80 tahun bersujud.

Merasa lebih berhak menghuni surga karena merasa paling benar dan paling banyak ibadahnya. Hanya karena satu dosa saja yang muncul dari hatinya yaitu perasa bangga diri dan merasa paling segalanya, Iblis menjadi terlaknat sampai hari kiamat.

Sekarang pilihan ada di tangan kita masing-masing. Apakah akan bertahan dalam ibadah namun terus menerus sombong, bangga diri, dan merasa paling baik.

Atau beribadah dengan tulus meninggalkan puja-puji manusia, serta mengakui segala dosa dan kelemahan diri sendiri?

by :Zulfahani Hasyim

Artikel Menarik Lainnya :

Comment Policy: Silahkan tinggalkan komentar Sobat sesuai dengan topik artikel di halaman ini. Komentar yang berisi Link tidak akan ditampilkan.
Buka Komentar