15 Manfaat dan Keutamaan Sholat Dhuha Menurut Hadist

15 Manfaat dan Keutamaan Sholat Dhuha Menurut Hadist
15 Manfaat dan Keutamaan Sholat Dhuha Menurut Hadist
Manfaat dan Keutamaan Sholat Dhuha
15 Manfaat dan Keutamaan Sholat Dhuha Menurut Hadist - Mengenai Keutamaan Sholat Dhuha dan Manfaat Sholat Dhuha, penulis telah merangkum beberapa hadits perihal sholat dhuha dibawah ini. Bisa jadi makna dari hadits-hadits tersebut jauh lebih luas lagi, namun sebagai seorang Muslim kita mengetahui bahwa memang manfaat dan keutamaan sholat dhuha ini sangat banyak sekali.

Manfaat dan Keutamaan Sholat Dhuha:

Dibawah ini adalah beberapa manfaat dari sholat dhuha yang utama, sesuai dengan hadist Nabi SAW, apa saja?, silahkan dibaca tulisan dibawah ini:

#1. Memenuhi sedekah di setiap sendi-sendi tubuh.
Diriwayatkan dari Buraidah a bahwa ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, “Pada diri insan terdapat tiga ratus enam puluh tiga ruas. Ia mempunyai kewajiban beramal atas setiap ruas tersebut.” 

Para sobat bertanya, “Siapakah yang bisa melaksanakan hal itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Ludah di dalam masjid yang ia timbun (dibersihkan) atau sesuatu (penghalang) yang ia singkirkan dari jalanan (bisa mewakili kewajiban sedekah). 

Jika engkau belum mampu, dua rakaat shalat Dhuha sudah memadai untuk mewakili kewajibanmu bersedekah”. (HR. Ahmad, 5: 354. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyampaikan bahwa hadits ini shahih ligoirohi).

Dari Abu Dzar al-Ghifari ra, ia berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: 
“Di setiap sendiri seorang dari kau terdapat sedekah, setiap tasbih (ucapan subhanallah) yaitu sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) yaitu sedekah, setiap tahlil (ucapan lailahaillallah) yaitu sedekah, setiap takbir yaitu sedekah, menyuruh kepada kebaikan yaitu sedekah, mencegah dari kemungkaran yaitu sedekah. Dan dua rakaat Dhuha diberi pahala,” (HR Muslim).

#2. Sholatnya orang yang bertaubat.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda. “Shalat awaabiin (orang-orang yang kembali kepada Allah) yaitu ketika belum dewasa unta sudah merasa kepanasan” Diriwayatkan oleh Muslim.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda “Tidaklah menjaga shalat sunnah Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali taat). Inilah shalat awwabin.” (HR. Ibnu Khuzaimah, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib 1: 164).

#3. Digolongkan sebagai orang yang taat.
Barangsiapa yang shalat Dhuha dua rakaat, maka beliau tidak ditulis sebagai orang yang lalai. Barangsiapa yang mengerjakannya sebanyak empat rakaat, maka beliau ditulis sebagai orang yang ahli ibadah. 

Barangsiapa yang mengerjakannya enam rakaat, maka beliau diselamatkan di hari itu. Barangsiapa mengerjakannya delapan rakaat, maka Allah tulis beliau sebagai orang yang taat. Dan barangsiapa yang mengerjakannya dua belas rakaat, maka Allah akan membangun sebuah rumah di nirwana untuknya.” (HR. At-Thabrani).

#4. Wasiat khusus Rasulullah Sallahu ‘alaihi wassalam.
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ia berkata, ‘Kekasihku (Rasulullah) memperlihatkan pesan (wasiat) kepadaku dengan tiga hal yang tidak pernah saya tinggalkan sampai saya meninggal nanti. Yaitu puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha, dan tidur dalam keadaan sudah mengerjakan shalat witir’.” (HR. Bukhari).

#5. Dalam kondisi tertentu, imbalannya setara dengan haji dan umrah.
Dari Abu Umamah ra bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya menyerupai seorang yang melaksanakan haji. 

Barang siapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya menyerupai orang yang melaksanakan `umrah…” (Shahih al-Targhib: 673).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa mengerjakan shalat Shubuh berjama’ah di masjid, kemudian beliau tetap berada di dalamnya sehingga beliau mengerjakan shalat Dhuha, maka pahalanya menyerupai orang yang menunaikan ibadah haji atau orang yang mengerjakan umrah, sama persis (sempurna) menyerupai ibadah haji dan umrahnya”. Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah kemudian ia duduk sambil berdzikir pada Allah sampai matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia menyerupai memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, tepat dan sempurna.” (HR. Tirmidzi no. 586. Syaikh Al Albani menyampaikan bahwa hadits ini hasan).

#6. Dilakukan di waktu yang sangat penting.
“Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari, demi bulan apabila mengiringinya, demi siang yang menampakkannya, demi malam apabila menutupinya, demi langit serta membinanya, demi bumi serta penghamparannya, demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Dia mengilhamkan kepadanya kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya”(QS. As-Syams:1-10).

Pada pembukaan surah AdDhuha, Allah berfirman, ”Demi waktu dhuha.” Imam Arrazi menandakan bahwa Allah SWT setiap bersumpah dengan sesuatu, itu memperlihatkan hal yang agung dan besar manfaatnya. Bila Allah bersumpah dengan waktu dhuha, berarti waktu dhuha yaitu waktu yang sangat penting.

#7. Diampuni dosa-dosanya meski sebanyak buih-buih di lautan.
“Siapa pun yang melaksanakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan,” (HR Tirmidzi).

#8. Dibangunkan sebuah rumah di surga.
Bagi yang rajin mengerjakan shalat Dhuha, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di dalam surga. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits Nabi Muahammad saw: 

“Barangsiapa yang shalat Dhuha sebanyak empat rakaat dan empat rakaat sebelumnya, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di surga,” (Shahih al-Jami`: 634).

Diriwayatkan dari Anas secara marfu’ Rasulullah bersabda, “Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha sebanyak dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga.” ”. (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Sedangkan shalat Dhuha yang dikerjakan dua belas rakaat ditunjukkan oleh hadits Abud Darda Radhiyallahu ‘anhu, di mana beliau bercerita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.: “Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha dua rakaat, maka beliau tidak ditetapkan termasuk orang-orang yang lengah. 

Barangsiapa shalat empat rakaat, maka beliau menetapkan termasuk orang-orang yang jago ibadah. Barangsiapa mengerjakan enam rakaat maka akan diberikan kecukupan pada hari itu. Barangsiapa mengerjakan delapan rakaat, maka Allah menetapkannya termasuk orang-orang yang tunduk dan patuh. 

Dan barangsiapa mengerjakan shalat dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di Surga. Dan tidaklah satu hari dan tidak juga satu malam, melainkan Allah mempunyai karunia yang danugerahkan kepada hamba-hamba-Nya sebagai sedekah. 

Dan tidaklah Allah memperlihatkan karunia kepada seseorang yang lebih baik daripada mengilhaminya untuk selalu ingat kepada-Nya” Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani.

#9. Masuk nirwana melalui pintu istimewa.
Nabi Muhammad saw bersabda,”Di dalam nirwana terdapat pintu yang berjulukan pecahan al dhuha (pintu dhuha) dan pada hari tamat zaman nanti ada yang memanggil,’dimana orang yang senantiasa mengerjakan shalat dhuha?’inilah pintu kamu, masuklah dengan kasih sayang (rahmat) Allah”.

#10. Menyehatkan tubuh.
Sebagaimana waktu dhuha dilakukan ketika di pagi hari sampai menjelang siang, menyerupai itu pula olahraga. Dan memang sudah diketahui bahwa gerakan-gerakan badan ketika sholat itu mempunyai manfaat yang sama dengan olahraga menyerupai melancarkan peredaran darah, meluaskan rongga udara di paru-paru, menguatkan otot dan lain sebagainya.

#11. Dicukupkan rezeki dan penuhi kebutuhan dan urusannya pada hari itu sampai sore hari.
Dari Abu Darda’ ra, ia berkata bahwa Rasulullah SAW berkata: Allah ta`ala berkata: “Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat dari awal hari, maka Aku akan mencukupi kebutuhanmu (ganjaran) pada sore harinya” (Shahih al-Jami: 4339).

“Diriwayatkan dari Nu‘aim bin Hammar a bahwa ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). 

Maka itu akan mencukupimu di tamat siang.” (HR. Ahmad (5/286), Abu Daud no. 1289, At Tirmidzi no. 475, Ad Darimi no. 1451 . Syaikh Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyampaikan bahwa hadits ini shahih).

#12. Diberikan keselamatan pada hari tersebut.
“Barangsiapa yang shalat Dhuha dua rakaat, maka beliau tidak ditulis sebagai orang yang lalai. Barangsiapa yang mengerjakannya sebanyak empat rakaat, maka beliau ditulis sebagai orang yang jago ibadah. 

Barangsiapa yang mengerjakannya enam rakaat, maka beliau diselamatkan di hari itu. Barangsiapa mengerjakannya delapan rakaat, maka Allah tulis beliau sebagai orang yang taat. Dan barangsiapa yang mengerjakannya dua belas rakaat, maka Allah akan membangun sebuah rumah di nirwana untuknya.” (HR. At-Thabrani).

“Diriwayatkan dari Nu‘aim bin Hammar a bahwa ia berkata: Aku telah mendengar Rasulullah bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, janganlah engkau tinggalkan empat raka’at shalat di awal siang (di waktu Dhuha). 

Maka itu akan mencukupimu di tamat siang.” (HR. Ahmad (5/286), Abu Daud no. 1289, At Tirmidzi no. 475, Ad Darimi no. 1451 . Syaikh Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyampaikan bahwa hadits ini shahih).

#13. Terhalang dari bahaya dan dimudahkan urusannya
Penulis ‘Aunul Ma’bud –Al ‘Azhim Abadi- menyebutkan, “Hadits ini bisa mengandung pengertian bahwa shalat Dhuha akan menyelematkan pelakunya dari banyak sekali hal yang membahayakan. Bisa juga dimaksudkan bahwa shalat Dhuha sanggup menjaga dirinya dari terjerumus dalam dosa atau ia pun akan dimaafkan bila terjerumus di dalamnya. Atau maknanya bisa lebih luas dari itu.” (‘Aunul Ma’bud, 4: 118).

At Thibiy berkata, “Yaitu engkau akan diberi kecukupan dalam kesibukan dan urusanmu, serta akan dihilangkan dari hal-hal yang tidak disukai sehabis engkau shalat sampai tamat siang. Yang dimaksud, selesaikanlah urusanmu dengan beribadah pada Allah di awal siang (di waktu Dhuha), maka Allah akan mudahkan urusanmu di tamat siang.” (Tuhfatul Ahwadzi, 2: 478).

#14. Sebuah keuntungan/ghanimah yang besar.
Dari Abdullah bin `Amr bin `Ash radhiyallahu `anhuma, ia berkata: “Rasulullah saw mengirim sebuah pasukan perang. Nabi saw berkata: 

“Perolehlah laba (ghanimah) dan cepatlah kembali!”. Mereka hasilnya saling berbicara perihal dekatnya tujuan (tempat) perang dan banyaknya ghanimah (keuntungan) yang akan diperoleh dan cepat kembali (karena bersahabat jaraknya). 

 Lalu Rasulullah saw berkata; “Maukah kalian saya tunjukkan kepada tujuan paling bersahabat dari mereka (musuh yang akan diperangi), paling banyak ghanimah (keuntungan) nya dan cepat kembalinya?” Mereka menjawab; “Ya!” Rasul SAW berkata lagi: 

"Barangsiapa yang berwudhu’, kemudian masuk ke dalam masjid untuk melaksanakan shalat Dhuha, beliau lah yang paling bersahabat tujuanannya (tempat perangnya), lebih banyak ghanimahnya dan lebih cepat kembalinya,” (Shahih al-Targhib: 666).

#15. Simpanan Amal Cadangan.
Rasulullah SAW menjelaskan dalam haditsnya; “Sesungguhnya yang pertama kali dihisab pada diri hamba pada hari tamat zaman dari amalannya yaitu sholatnya. Jika benar (sholatnya) maka ia telah lulus dan beruntung, dan bila rusak (sholatnya) maka ia akan kecewa dan rugi. 

Jika terdapat kekurangan pada sholat wajibnya, maka Allah berfirman, ‘Perhatikanlah, jikalau hamba-Ku mempunyai sholat sunah maka sempurnakanlah dengan sholat sunahnya sekadar apa yang menjadi kekurangan pada sholat wajibnya. Jika selesai urusan sholat, barulah amalan lainnya.” (H.R. Ash-habus Sunan dari Abu Hurairah RA).

Demikian tentang manfaat dan keutamaan Sholat Dhuha menurut hadist Nabi Muhammad SAW, semoga bermanfaat dan terima kasih telah berkunjung.

Artikel Menarik Lainnya :

Jika Sobat merasa bahwa artikel-artikel di blog ini bermanfaat, Sobat dapat membantu perkembangan blog ini berupa donasi via Paypal yang nantinya dapat digunakan untuk memperpanjang domain www.b38.web.id - Terima kasih.
Buka Komentar