Cara Adopsi Anak Dari Panti Asuhan

Cara Adopsi Anak Dari Panti Asuhan
Cara Adopsi Anak Dari Panti Asuhan
Cara Adopsi Anak Dari Panti Asuhan
Cara Adopsi Anak Dari Panti Asuhan - bagi setiap pasangan yang sudah menikah, memiliki keturunan menjadi tujuan yang paling sangat didambakan, namun ada beberapa pasangan yang tak kunjung diberikan momongan dalam waktu lama, berbagai cara dan usaha dilakukannya agar mendapatkan si buah hati, baik secara alami maupun secara modern, hingga akhirnya adopsi menjadi  pilihan terakhir dan jalan keluar.

Namun ternyata proses adopsi anak tidak semudah yang kita kira, masih terdapat banyak hal-hal yang harus dipertimbangkan selain kesiapan mental atau fisik,

Karena memang, terkadang ada calon orang tua yang cenderung menginginkan sosok yang sempurna untuk calon anaknya nanti, serta kecenderungan para pasangan suami-istri yang tidak ingin mengadopsi anak secara sembarangan, 

Misalnya saja, calon anak yang akan di adopsi harus memiliki rambut lurus, kulit putih, normal dan benar-benar dalam kondisi yang sehat, 

Wajar saja jika ada orangtua yang memiliki kecenderungan ingin memiliki anak yang sempurna, namun keingingan dan harapan yang tinggi, biasanya justru datang dari pasangan yang belum memiliki anak dalam jangka waktu lama, kenapa begitu?,dapat dimisalkan saja, jika ada seorang ibu yang sedang hamil pastinya memiliki keinginan dan harapan calon anaknya nanti lahir dengan keadaan yang sempurna, 

Namun akan berbeda jika yang merasakan adalah mereka yang belum juga dikaruniai anak apalagi dalam waktu yang cukup lama, dalam kondisi kekurangan tersebut, biasanya pasangan tersebut akan berusaha mencari kelebihan dan itu justru di bebankan kepada sang anak, 

Oleh sebab itulah, mereka mencari anak dengan kriteria yang ideal dan mendekati sempurna sesuai dengan keinginannya, jika hal itu terjadi, artinya adopsi yang dilakukan adalah untuk kepentingan orangtua, bukan berdasar untuk menolong anak yang terlantar, 

Kesiapan fisik dan mental harus benar-benar di pikirkan, mengingat resiko yang akan terjadi dan dihadapi nantinya, bukan hanya siap dalam merawat dan menjaga anak adopsi tersebut, namun kesiapan financial juga harus dipikirkan secara matang, untuk memenuhi segala kebutuhan anak nantinya, 

Selain itu, kesiapan mental juga sangat dibutuhkan, karena nantinya mau tidak mau status sosial pasangan suami-istri di masyarakat akan berubah ketika sudah mengadopsi anak,


Bukan hanya dari segi emosi, orangtua yang akan mengadopsi anak juga harus dapat menyesuaikan diri terhadap segala perubahan-perubahan yang mungkin terjadi selama merawat anak dari hasil adopsi,

Dulu mengadopsi anak bisa dikatakan sebagai jalan keluar, bagi mereka yang tidak mempunyai anak, karena memang kepercayaan yang beredar selama ini adalah, mengadopsi sebagai pancingan agar cepat memiliki anak,

Namun pada jaman sekarang, pengertian adopsi seperti itu haruslah dirubah, adopsi anak bukan hanya untuk orang yang tidak memiliki anak saja, tetapi disarankan kepada setiap orangtua yang memiliki kelebihan dalam hal materi, kasing sayang dan tenaga yang berlebih disarankan mengadopsi anak juga,

Dengan begitu, diharapkan oragtua sudah tidak akan memilih-milih anak yang akan diadopsinya sesuai dengan kriteria mereka, serta keiklasan mereka yang mempu menahan rasa ego untuk mendapatkan anak yang sempurna, karena adopsi juga berhubungan dengan ibadah, maka jalani dengan rasa iklas agar Allah SWT meridhoi,

Diatas adalah kesimpulan dari penulis, dari beberapa sumber yang berhubungan dengan mengadopsi anak, jika sobat telah membaca tulisan diatas, dan benar-benar siap dengan segala resiko yang mungkin datang dan terjadi nantinya ketika mengadopsi anak,

Sekarang saatnya untuk memutuskan, apakah ingin tetap mengadopsi anak atau tidak?, jika tetap ingin mengadopsi anak, adopsi lah dari panti asuhan secara legal, bagaimana caranya?, silahkan baca caranya dibawah ini:

Cara Adopsi Anak Dari Panti Asuhan:

Seperti yang sudah ditulis diatas, bahwa mengadopsi anak tidaklah semudah yang kita bayangkan, banyak pertimbangan-pertimbangan yang harus benar-benar di pikirkan, agar tidak menyesal dikemudian hari,

Pernah penulis menemukan kasus, anak yang diadopsi diambil kembali oleh orangtua aslinya, yang akhirnya mau tidak mau orangtua angkat mengalah, karena memang tidak memiliki dasar hukum yang kuat, dan dulunya waktu adopsi hanya melalui surat perjanjian hitam diatas putih saja,

Untuk itulah kenapa, mengadopsi anak disarankan dari panti asuhan, karena apa?, jika suatu saat terjadi hal yang tidak di inginkan, orangtua dapat mengatasinya dengan baik,

Perlu diketahui sebelumnya, di panti asuhan ini tidak semua anak bisa kita adopsi, ada yang tidak boleh, jadi sebaiknya tanyakan terlebih dahulu status anak atau bayi yang akan kita adopsi dari panti asuhan ini telah berstatus anak negara,

Anak atau bayi yang memiliki status anak negara disini adalah mereka yang benar-benar tidak memiliki orangtua, bukan titipan (orangtua yang tidak mampu merawat anak atau bayi biasanya dititipkan ke panti asuhan),

Tanyakan terlebih dahulu kepada pengolah panti, apakah anak yang akan kita adopsi sudah memiliki calon orangtua, sebaiknya pilih bayi atau anak yang tidak memiliki calon orangtua, agar prosesnya tidak terlalu lama dan tidak ada persaingan,

Jika semua informasi tentang calon anak yang akan diadopsi sudah didapat, silahkan penuhi syarat Standar Pelayanan Proses Pengangkatan Anak (Adopsi) berdasar hukum dibawah ini:

PP No. 54 Tahun 2007, Tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak, Permensos RI No. 110/HUK/2009 Tentang Pengangkatan Anak:

Persyaratan:
  1. Syarat Calon Orangtua Angkat (COTA)
  2. Sehat jasmani dan rohani
  3. Berumur paling rendah 30 tahun dan paling tinggi 55 tahun
  4. Beragama sama dengan agama calon anak angkat
  5. Berkelakuan baik dan tidak pernah dihukum karena melakukan tindak kejahatan
  6. Berstatus menikah secara sah paling singkat 5 tahun
  7. Tidak merupakan pasangan sejenis
  8. Tidak atau belum mempunyai anak atau hanya memiliki satu orang anak
  9. Dalam keadaan mampu secara ekonomi dan sosial
  10. Memperoleh persetujuan anak dan izin tertulis dari orangtua atau wali anak
  11. Membuat pernyataan tertulis bahwa pengangkatan anak adalah demi kepentingan terbaik bagi anak, kesejahteraan dan perlindungan anak
  12. Adanya laporan sosial dari peksos setempat
  13. Telah mengasuh calon anak angkat paling singkat 6 bulan, sejak izin pengasuhan diberikan
  14. Memperoleh izin Menteri atau Kepala Instansi Sosial Provinsi

Syarat Calon Anak Angkat (CAA):
  1. Anak belum berusia 6 tahun merupakan prioritas utama yaitu anak yang mengalami keterlantaran, baik anak yang berada dalam situasi mendesak maupun anak yang memerlukan perlindungan khusus.
  2. Anak berusia 6 tahun sampai dengan belum berusian 12 tahun sepanjang ada alasan mendesak berdasarkan laporan sosial, yaitu anak terlantar yang berada dalam situasi darurat.
  3. Anak berusia 12 tahun sampai dengan belum berusia 18 tahun yaitu anak terlantar yang memerlukan perlindungan khusus.
Keputusan Menteri Sosial RI No 41/HUK/Kep/VII/1984, tentang Petunjuk Pelaksanaan Perizinan Pengangkatan Anak secara legal, yaitu:
  1. Pasangan harus berstatus menikah dengan usia minimal 25 tahun dan maksimal 45 tahun. 
  2. Minimal pasangan yang akan mengadopsi anak telah menikah 5 tahun saat pengajuan. Pasangan tersebut harus menyerahkan dokumen secara tertulis berisikan keterangan, seperti: tidak memungkinkan memiliki anak kandung dari dokter ahli, tidak memiliki anak, memiliki satu anak kandung, atau hanya memiliki seorang anak angkat, tetapi tidak mempunyai anak kandung.
  3. Harus memiliki kondisi keuangan dan sosial mapan dengan menyerahkan surat keterangan dari negara asal pasangan tersebut. 
  4. Memperoleh persetujuan tertulis dari pemerintah negara asal pemohon (berlaku bagi pasangan yang bukan Warga Negara Indonesia (WNI).
  5. Surat keterangan kelakuan baik dari kepolisian. surat keterangan dokter yang menyatakan bpasangan tersebut adalah sehat secara jasmani dan rohani. 
  6. Telah menetap sekurang-kurangnya tiga tahun di Indonesia yang dibuktikan dengan surat keterangan dari pejabat yang berwenang (berlaku bagi pasangan yang bukan WNI.
  7. Telah merawat dan memelihara anak yang akan diadopsi tersebut sekurang-kurangnya enam bulan untuk anak balita,dan satu tahun untuk anak yang berumur 3-5 tahun. 
  8. Surat pernyataan secara tertulis yang menyatakan bahwa pengangkatan tersebut memang semata-mata untuk kepentingan dan kesejahteraan anak yang bersangkutan. 
  9. Adopsi anak tidak hanya berlaku bagi pasangan suami istri, tetapi juga dibolehkan untuk wanita atau pria yang masih lajang asalkan mempunyai motivasi yang kuat untuk mengasuh anak.
Keterangan pelengkap:
  1. Surat permohonan izin pengangkatan anak dari yang bersangkutan diatas kertas bermaterai 6.000 (asli), 
  2. Surat kelakuan baik dari Kepolisian (suami-istri),
  3. Surat dari calon orang tua angkat mengenai motif pengangkatan anak diatas kertas bermaterai 6.000,
  4. Foto copy surat nikah dan surat lahir calon orang tua angkat,
  5. Surat keterangan dokter kandungan tentang keadaan calon ibu angkat yang menyatakan tidak mempunyai anak atau tidak dapat mempunyai anak lagi, atau berisiko tinggi jika memiliki anak, 
  6. Surat keterangan sehat dari dokter pemerintah (suami-istri),
  7. Surat keterangan penghasilan dari tempat orang tua angkat bekerja,
  8. Surat keterangan persetujuan pengangkatan anak dari keluarga suami –istri,
  9. Fotocopy surat akte kelahiran atau akte kenal lahir calon anak angkat, 
  10. Fotocopy surat penyerahan orang tua kandung atau wali kepada Dinas Sosial di kota setempat, 
  11. Fotocopy surat penyerahan anak dari Dinas Sosial ke Organisasi Sosial, 
  12. Fotocopy surat keputusan kepala Dinas Sosial dan Pemakaman tentang izin pengasuhan anak (selama 6 bulan), 
  13. Laporan sosial tentang calon orang tua angkat maupun anak yang dibuat oleh pejabat sosial setempat, 
  14. Foto calon orang tua angkat dan anak angkat,
  15. Tembusan surat permohonan yang disampaikan kepada Menteri Sosial dan orsos dimana calon anak angkat tersebut berada, beserta fotocopy lampirannya.

Prosedur resmi tentang cara mengadopsi anak, di antaranya:
  1. Pertama, ajukan surat permohonan ke pengadilan di wilayah tempat tinggal calon anak angkat. Pemerintah telah menunjuk dua yayasan untuk melayani proses adopsi, yaitu Yayasan Sayap Ibu (Jakarta) dan Yayasan Matahari Terbit (Surabaya).
  2. Kedua, setelah surat permohonan ditindak lanjuti, petugas dari dinas sosial nantiny akan mengecek. Mulai dari kondisi ekonomi, tempat tinggal, penerimaan dari calon saudara angkat (bila sudah punya anak), pergaulan sosial, kondisi kejiwaan, dan lain-lain. Pengecekan keuangan dilakukan untuk mengetahui pekerjaan tetap dan penghasilan memadai. Bagi WNA harus ada persetujuan/izin untuk mengadopsi bayi Indonesia dari instansi yang berwenang dari negara asal.
  3. Ketiga, calon orangtua dan anak angkat diberi waktu untuk saling mengenal dan berinteraksi. Pengadilan akan mengizinkan membawa si anak untuk tinggal selama 6-12 bulan, di bawah pantauan dinas sosial.
  4. Keempat, menjalani persidangan dengan menghadirkan minimal dua saksi.
  5. Kelima, permohonan dapat disetujui atau ditolak. Bila disetujui, akan dikeluarkan surat ketetapan dari pengadilan yang berkekuatan hukum. 
  6. Keenam, dicatatkan ke kantor catatan sipil.
Proses minimal yang mesti dijalankan calon orangtua angkat adalah surat pernyataan orangtua ketika menyerahkan anak. Untuk calon anak angkat yang berasal dari panti asuhan, yayasan harus mempunyai surat izin tertulis dari Menteri Sosial (Mensos) yang menyatakan yayasan tersebut telah diizinkan di bidang kegiatan pengangkatan anak.


Calon orangtua angkat mengajukan permohonan ke pengadilan negeri, calon anak angkat harus mendapat izin tertulis dari Mensos /pejabat yang ditunjuk. Setelah permohonan itu diterima pengadilan negeri akan segera dilakukan pemeriksaan.

Proses tahapan dalam adopsi anak:
  1. Pada tahap pertama, pengadilan mendengar langsung saksi-saksi, calon orangtua angkat, orangtua kandung, badan atau yayasan sosial yang telah mendapat izin dari pemerintah di sini yaitu Kemensos, seorang petugas/pejabat instansi sosial setempat, calon anak angkat (jika dia sudah bisa di ajak bicara), dan pihak kepolisian setempat (Polri).
  2. Pada tahap kedua, pengadilan memeriksa semua bukti-bukti berupa surat-surat resmi, akte kelahiran atau akte kenal lahir yang di tandatangani wali kota atau bupati setempat, surat resmi pejabat lainnya, akte notaris dan surat-surat di bawah tangan (korespondensi), surat-surat keterangan, pernyataan-pernyataan dan surat keterangan dari kepolisian tentang calon orangtua angkat dan anak angkat. Sebelum dikeluarkan penetapan sebagai jawaban dari permohonan adopsi, pengadilan memeriksa dalam persidangan tentang latar belakang motif kedua belah pihak (pihak yang melepas dan pihak yang menerima anak angkat).
Tahap Akhir:
Penjelasan hakim tentang akibat hukum yang ditimbulkan setelah melepas dan mengangkat calon anak angkat. Sebelum memberikan penetapan hakim memeriksa keadaan ekonomi, kerukunan, keserasian kehidupan keluarga, serta cara mendidik orangtua angkat.

Proses berjalan sampai tiga hingga empat bulan untuk penetapan status anak adopsi atau anak angkat itu selesai. Penetapan itu disertai akte kelahiran pengganti yang menyebutkan status anak sebagai anak angkat orangtua yang mengadopsi. Adopsi tidak bisa dibatalkan oleh siapa pun.

Kiranya demikian tulisan mengenai cara adopsi anak dari panti asuhan ini, yang dirangkum dari berbagai sumber, semoga dapat menjadi manfaat dan dapat menambah informasi kepada sobat semua, terima kasih telah berkunjung.

Artikel Menarik Lainnya :

Jika Sobat merasa bahwa artikel-artikel di blog ini bermanfaat, Sobat dapat membantu perkembangan blog ini berupa donasi via Paypal yang nantinya dapat digunakan untuk memperpanjang domain www.b38.web.id - Terima kasih.
Buka Komentar